dimana kami selalu berbagi tawa dan tangis dalam sesuatu yang disebut cinta,
melukiskan keindahan ikatan suci dalam secarik kertas putih kehidupan,
memimpikan jalinan itu kan tertaut hingga kami lupa tuk bernafas kelak.
canda itu terasa nyata walau kini dia tlah pergi
membawa sebongkah dendam yang tak mampu kupecahkan dengan kedua tanganku.
ketidak tahuanku selalu bertanya, apakah dia merasakan cinta yang kini kurasakan terhadapnya?
dan adakah secarcah harap untuk kembali merajut benang-benang itu bersama?
aku merindunya seperti seorang anak yang merindukan belai ibunya.
kerinduan itu tak pernah hilang meski telah berlari kencang bersama waktu.
entah dimana dia berada kini, membawa setengah dari hatiku pergi bersamanya.
tak adakah jalan bagiku untuk kembali menebus semua kesalahanku?
waktu tak mampu menolongku, bahkan sang waktu tetap berjalan membawanya
pergi bersama kesakitannya.
tak pernahkah terpikir olehnya tentang sakit yang sebenarnya juga kurasakan?
kesakitan akan kehilangannya, kehilangan impian yang pernah kami kejar bersama?
hanya dalam mimpilah aku dapat melihatnya tanpa dapat menyentuhnya dengan sentuhan
yang dapat membuang semua kerinduanku terhadapnya.
dan inikah cinta pertamaku? cinta yang aku hempaskan karena kebodohanku?
rasa sesal ini tak pernah mau pergi,
bahkan mereka selalu datang dengan membawa kesakitan untukku..
Tuhan, berikan harapan kepadaku untuk dapat memeluknya,
agar ku dapat menuangkan anggur cinta ini ke dalam cawan dihatinya.
